Tentang Depresi dan Menghakimi

Minggu pagi kemarin ada berita mengejutkan saat saya membaca twitter feeds. CNN, Huffington Post dan banyak media besar lainnya menulis bahwa putra dari Pendeta Rick Warren bunuh diri. Setiap tindakan bunuh diri adalah sebuah tragedi, tapi berita ini sepertinya terasa lebih mengejutkan, terasa lebih tragis, khususnya buat komunitas Kristen.

Kita cenderung berpikir bahwa tindakan bunuh diri adalah suatu dosa yang tidak terampuni, yang dilakukan oleh orang yang hidupnya kosong atau tidak berpengharapan akan hari esok yang lebih baik. Setidaknya seperti itulah ajaran yang saya dapatkan dari khotbah-khotbah di gereja. Banyak pendeta yang senang menggunakan contoh bagaimana orang-orang ternama bisa sangat berkelimpahan secara materi di dalam hidupnya, tetapi tidak mememiliki hubungan dengan Tuhan sehingga merasa hidupnya kosong dan pada akhirnya bunuh diri. Banyak juga yang mengambil contoh bagaimana orang-orang bunuh diri karena tidak kuat menanggung tekanan hidup, dan mereka melakukannya karena tidak memiliki pengharapan kepada Allah.

Dari contoh-contoh seperti ini kita tanpa sadar jadi terbiasa menghakimi orang yang mengakhiri hidupnya. Bunuh diri itu dosa besar dan dilakukan oleh orang berdosa, titik. Jadi saat yang melakukannya adalah putra dari seorang pendeta penulis Purpose Driven Life yang sangat terkenal itu, kita terhenyak. Bukankah dengan memiliki orang tua pendeta sekaliber Rick Warren, almarhum memiliki akses lebih banyak untuk membangun kekuatannya di dalam Tuhan? Belajar dan tahu bahwa mengakhiri hidup itu berarti menyia-nyiakan karunia kehidupan yang Tuhan masih berikan?

Saya jadi teringat saat seorang teman yang saya kagumi mengakhiri hidupnya, hanya beberapa hari menjelang Natal 2010. Dia adalah teman saat bersekolah di Belanda dulu, seseorang yang sangat pintar, ramah dan punya banyak teman. Saat berita duka ini beredar lewat email di antara para alumni, banyak rekan yang dalam terkejutnya kemudian bertanya-tanya dan membuat pernyataan yang bernada menghakimi. Seorang teman lain yang mengenal almarhumah dengan lebih dekat akhirya tidak sabar, dan menjelaskan bahwa almarhumah bunuh diri bukan karena muak dengan hidup tetapi karena memiliki gangguan kejiwaan yang membuatnya rentan terhadap depresi dan pikiran-pikiran untuk bunuh diri.

Ini juga yang dialami oleh putra dari Pdt. Rick Warren. Dalam suratnya kepada jemaat di Saddleback Church, Pdt. Rick Warren menjelaskan bahwa almarhum sudah lama berjuang melawan penyakit ini. Sayangnya dalam satu episode depresi, akhirnya almarhum menyerah – setelah bertahan sekian lama.

Di Indonesia, pengetahuan tentang gangguan-gangguan kejiwaan masih sangat terbatas. Stigma terhadap mereka yang memiliki gangguan kejiwaan juga sangat kuat sehingga menghalangi penderita untuk mencari pengobatan. Dan dikala mereka mengambil jalan untuk mengakhiri penderitaan lewat bunuh diri, ada stigma lain yang juga melekat: bahwa mereka kurang tangguh, putus asa, tidak beriman, dll. 

Sekali lagi, setiap tindakan bunuh diri adalah suatu tragedi yang sebenarnya bisa dicegah. Bagian kita adalah berusaha belajar lebih banyak tentang gangguan-gangguan kejiwaan yang membuat orang rentan untuk bunuh diri, mengenal tindakan-tindakan pencegahan, dan berhenti menghakimi. Mungkin dengan perginya Matthew Warren, banyak orang yang jadi terdorong untuk belajar mengenali bentuk-bentuk gangguan kejiwaan tersebut. Dan saya juga berharap, banyak pendeta yang berhenti menggunakan contoh-contoh bunuh diri untuk mengilustrasikan berdosanya seseorang.

Sungguh, bukan bagian kita untuk menghakimi.

 

 Image

2 thoughts on “Tentang Depresi dan Menghakimi

  1. Mengejutkan tuh berita. Aku bayangkan betapa berat beban Rick Warren-nya skrg. Apalagi dgn stigma masyarakat itu. Syukurnya dia sudah mengenali anaknya dan penyakit yg dideritanya. Jadi ingat, banyak sekali orang bunuh diri disebut-sebut alasannya karena stress hadapi ujian, ga punya duit biayain anak, dll mungkin bukan timbul saat itu juga tapi memang dia sudah menderita gangguan kejiwaan ini cukup lama, dan orang ga punya pengentahuan ttg ini, dan disatu titik dia sampe pada puncaknya, ga sanggup lagi.

  2. Pengetahuan masyarakat yang terbatas terhadap gangguan-gangguan kejiwaan dan juga karena pemberitaan kasus bunuh diri yang kebanyakan disebabkan karena stres atau depresi membuat masyarakat memandang penyebab bunuh diri seperti yang dikomentari oleh Vina dan melupakan beberapa faktor yang menjadi akar sehingga diambilnya keputusan oleh seseorang untuk bunuh diri.
    yah itulah.. mungkin istilah don’t judge a book by it cover juga berlaku dalam hal ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s